DALIL ‘AQLI BERIMAN KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Berikut dalil-dali ‘aqli terkait dengan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

1. Adanya alam semesta dan makhluk yang beraneka ragam memberikan kesaksian akan wujud Sang Pencipta, yaitu Allah Subahanahu wa Ta’ala. Karena, tidak ada seorang pun di dalam raya ini yang mengklaim telah menciptakan alam raya ini beserta isi-isinya selain dari Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Akal manusia pun menyatakan mustahil (tidak mungkin) adanya sesuatu tanpa adanya Sang Pencipta (yang mengadakan), bahkan juga akan menyatakan mustahil akan adanya sesuatu yang sangat sederhana tanpa ada yang mengadakannya, seperti adanya makanan tanpa adanya orang yang berupaya untuk memasaknya, atau adanya hamparan di bumi tanpa adanya yang menghamparkannya. Maka, bagaimana dengan alam raya yang luar biasa besarnya yang terdiri dari langit dengan segala planet-planet yang dikandungnya, matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya berbeda besar dan kecilnya, bentuk dan rupanya, dimensi-dimensinya dan pergerakannya.

Bumi dengan segala apa yang ada di permukannya, seperti manusia, jin dan berbagai hewan dengan segala jenis dan spesiesnya dan dengan segala perbedaan warna dan bahasa, perbedaan pengetahuan dan pemahaman, karakteristik dan ciri, dan dengan segala apa yang dikandungnya, seperti barang-barang tambang yang bermacam-macam warna dan kegunaannya, dengan segala sungai yang mengalir, daratan yang diliputi lautan dan samudera, serta dengan segala macam tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang beraneka macam buah-buahannya, yang berbeda-beda pula macam dan jenisnya, rasa dan baunya, kekhususan dan kegunaannya.

 

2. Adanya FirmanNya pada kita yang selalu kita baca dan kita hayati serta kita pahami maknanya merupakan bukti atas wujud Allah, karena sangat mustahil ada pembicaraan (kalam) tanpa adanya pembicara (mutukallim) atau adanya ucapan tanpa adanya yang mengucapkan.

Jadi, kalam atau Firman Allah Subahanahu wa Ta’ala itu menunjukkan wujudNya, apa lagi FirmanNya itu mengandung ajaran yang paling kokoh dan sempurna yang pernah diketahui oleh manusia, dan undang-undang (aturan) yang paling bijaksana yang merealisasikan berbagai kebaikan bagi umat manusia. Ia juga meliputi teori-teori ilmiah yang paling benar, serta meliputi berbagai masalah ghaibiyah  dan peristiwa-peristiwa bersejarah.

Dan, di dalam semua hal itu ia sangat tepat dan benar; tidak ada suatu hukum (aturan) pun dari hukum-hukum yang dikandungnya yang tidak merealisasikan kegunaan dan manfaatnya sepanjang zaman, sekalipun waktu dan tempat berbeda. Tidak ada satu teori pun dari teori-teori yang ada di dalamnya yang kadarluasa, dan tidak ada satu masalah ghaibiyah yang diberitakannya. Dan, tidak ada seorang pun ahli sejarah yang berani membatalkan satu kisah dari kisah-kisah yang dimuat di dalam FirmanNya, lalu kemudian ia mendustakannya, atau mampu mendustakan atau menafikan (meniadakan) satu kejadian dari kejadian-kejadian bersejarah yang disebutkan dan diinformasikan secara rinci.

Ucapan (kalam) yang bijaksana lagi benar seperti itu membuat akal menjadi mustahil akan menisbatkannya kepada seorang manusia, karena kalam seperti itu di luar kemampuan manusia dan di luar tingkat pengetahuan mereka. Maka apabila sudah tidak mungkin lagi dikatakan bahwa kalam (Firman, al-Quran) adalah ucapan manusia, maka ia adalah kalam (Firman) Sang Pencipta manusia dan sekaligus sebagai dalil atas wujud, ilmu, Qudrat (kekuasaanNya), dan kebijsanaanNya.

 

3. Adanya sistem yang sangat teratur rapi seperti ini, yang tercermin pada sunnah kauniyah (sunnatullah) di dalam penciptaan, pembentukan, pertumbuhan, dan pengembangan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di dalam semesta ini. Sesungguhnya, semua patuh dan tunduk kepada sunnahtullah, tidak dapat keluar darinya bagaimana pun juga. Sebagai contoh adalah manusia, ia diciptakan bermula dari sperma yang tercurahkan ke dalam rahim, kemudian melalui beberapa fase yang sangat ajaib di mana tidak ada seorang pun selain Allah yang ikut campur di situ, lalu keluar dari nya sebagai sosok manusia yang sempurna. Itu adala dalam masa penciptaan dan pembentukannya, dari bayi dan ana-anak hingga menjadi seorang remaja dan dewasa, dan terus berlanjut memasuki masa tua.

Sunnah umum yang terjadi pada manusia dan hewan seperti tersebut di atas juga berlaku pada pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Demikian pula langit dan benda-benda yang ada di dalamnya, semuanya tunduk dan patuh kepada aturan dan sunnah yang telah ditetapkan kepadanya, tidak pernah menyimpang darinya dan tidak pernah keluar dari jalurnya. Maka, kalau saja terjadi penyimpangan atau sejumlah planet keluar dari garis edarnya, niscaya hancurlah alam semesta ini dan berakhirlah kehidupan ini!

Berdasarkan dalil-dalil ‘aqli yang logis seperti di atas, maka seorang Muslim beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada rububiyaNya atas segala sesuatu dan ilahiyahNya bagi manusia terdahulu dan manusia masa kini serta masa yang akan datang. Atas dasar dan prinsip keimanan dan keyakinan ini pulahlah kehidupan seorang Muslim dengan segala aspeknya terbentuk.

 

Sumber: Minhajul Muslim

Komentar